Wawancara yang dimohon wartawati baru itu, oleh Presiden dikabulkan. Padahal, Annisa baru sepuluh bulan bekerja sebagai wartawati di media ini. (Kabar itu membengkakkan rasa cemburu rekan-rekannya, yang lebih senior). Lagi pula, semua orang tahu, yang mulia Presiden tidak mudah diwawancarai!
Dalam wawancara, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Annisa. Selama wawancara dengan Presiden, tidak diperbolehkan membicarakan politik, ekonomi, baik dalam maupun luar negeri. Yang diperbolehkan hanya membicarakan hal-hal yang ringan. Wawancara bertempat di serambi belakang istana (di mana tempat itu adalah bagian terindah dari istana).
Wawancara akan dilakukan pada jam dua siang. Annisa harus hadir lima belas menit sebelum wawancara dimulai. Tidak diperkenankan membawa fotografer. Dan paling penting yang harus diingat Annisa, tidak diperbolehkan memakai parfum. Presiden yang perokok berat itu, alergi terhadap parfum. Padahal, tanpa parfum kesukaannya, Annisa merasa gamang.
Tepat lima belas menit sebelum jam dua siang, Annisa, 26 tahun, tinggi seratus tujuh puluh sentimeter, bermata lebar, kulitnya cokelat seperti tanah yang baru dibasahi hujan, putri bungsu dari empat bersaudara Bapak-Ibu Syahrul yang pengusaha, hadir di serambi belakang istana.
Jam dua siang tepat, yang mulia Presiden muncul dengan mengenakan baju warna gelap. Tanpa senyum, mengulurkan tangannya kepada Annisa.
Ada perasaan galau dalam diri Annisa. Dia mencoba menetralisir pikirannya yang kacau-balau (Terkagum-kagum kepada Presiden yang pernah dikenal dekat oleh bundanya). Annisa tersedot.
Sambil menyulut rokok yang digemarinya, Presiden berkata, "Anda bisa memulai dengan pertanyaan pertama."
Annisa yang untuk selanjutnya disebut dengan inisial (A), dan Presiden dengan inisial (P), memulai wawancara yang bagi Annisa, membuatnya gugup, berkeringat. (Bundanya pernah berkata, akan sulit baginya, mewawancarai lelaki yang suka menjaga jarak dalam pembicaraan mereka).
***
A: Di masa muda Bapak menyukai olahraga tenis, apakah Bapak masih sempat melakukan olahraga itu?
P: Saya masih melakukannya pada setiap Sabtu siang. Tetapi, setiap memukul bola, pikiran saya selalu tertumpu pada pekerjaan. Sehingga sulit memenangkan pertandingan yang saya adakan dengan pegawai-pegawai di lingkungan istana ini.
A: Saya kira, Bapak sangat menyukai pekerjaan, padahal tahun ini Bapak genap berusia berusia 60 tahun.
P: Kadang-kadang dalam usia ini, saya ingin sekali beristirahat untuk menikmati masa kerja yang begitu panjang temponya. Tetapi, harus Anda ketahui, hal itu tidak akan pernah saya lakukan. Karena, sekali lagi saya tegaskan, banyak pekerjaan yang tidak bisa ditunda.
A: Bapak beranggapan kerja menjadi keseluruhan hidup ini?
P: Saya tidak bilang begitu. Karena kadang-kadang saya juga menikmati waktu senggang dengan bermain tenis atau bermain dengan cucu-cucu saya. Keseimbangan itu bisa menyehatkan siapa saja.
A: Apakah Bapak masih menyukai seni, seperti di masa muda? Karena Bapak pernah menerbitkan beberapa kumpulan puisi. Saya dan Bunda suka puisi Bapak yang berjudul Bulan di Atas Pohon Kenari.
P: Di masa muda adalah waktu yang mengasyikkan kala menciptakan puisi. Tapi itu sudah lewat. Pikiran saya selalu melompat-lompat pada problem yang desak-mendesak di negeri ini.
A: Apakah Bapak kecewa?
P: Tidak. Setiap orang berada pada situasi batas, di mana kita tidak bisa memiliki banyak pilihan.
A: Apakah sekarang Bapak masih suka nonton film seperti di masa muda?
P: Ya, film-film dokumenter, sejarah atau perang. Saya kurang suka menonton film roman. Melihat film itu seperti melihat ilusi yang bisa meninabobokan kita semua.
A: Menurut beberapa ahli mode, Bapak menyukai model-model konservatif dan cenderung menyukai warna gelap. Menurut majalah mode, Bapak adalah pria berbusana terbaik di tahun ini. Bagaimana komentar Bapak tentang pendapat para ahli mode itu?
P: Sejak muda, saya tidak mempedulikan mode. Buat saya, asal enak dipakai saja.
A: Kalau hidup ini bisa diulang, profesi apa yang Bapak sukai?
P: Penyair, karena saya bisa terlibat dengan banyak manusia, menulis kristalisasi kehidupan.
A: Apakah dengan menjadi Presiden, kita tidak bisa mengkristalisasi kehidupan ini?
P: Ibu Annisa, pertanyaan Anda lepas dari koridor perjanjian semula.
A: Maaf, sekarang bagaimana pendapat Bapak tentang perempuan?
P: Saya suka perempuan yang konvensional. Ini bukan berarti saya tidak menyukai wanita karier. Sebab, saya kira, pekerjaan apa pun pasti bisa menarik.
A: Bagaimana pendapat Bapak tentang cinta?
P: Saya kira, kita tidak bisa memanipulasi cinta. Untuk hal ini harus ada kerja sama.
A: Kalau saya boleh menyimpulkan, Bapak hanya mencintai kerja keras dan berharap semua orang bisa meniru sikap Bapak. Lantas apa yang tidak Bapak sukai?
P: Sikap malas dan perasaan lemah.
A: Biasanya, perempuan dianggap lemah karena gampang menangis, bagaimana pendapat Bapak?
P: Seharusnya perempuan yang tinggal di negeri ini bersikap rasional. Sebab, kehidupan di zaman ini siap tempur dan desak-mendesak.
A: Kenyataannya sekarang banyak perempuan bahkan laki-laki yang cengeng. Itu terlihat pada film-film, sinetron, novel-novel atau lagu yang mereka gemari.
P: Benar, di dalam buku saku saya, sudah ada rencana untuk menghimbau rakyat agar mereka meninggalkan kecengengan itu.
A: Tapi, kalau kita bersikap yang sama, dunia ini akan kehilangan warnanya. Bagaimana pendapat Bapak?
P: Paling penting adalah warna yang rasional.
A: Apakah Bapak masih bisa menikmati bunga yang mekar, misalnya?
P: Saya mencoba untuk tidak pernah terpesona pada segala hal.
A: Bagaimana pendapat Bapak tentang lomba go car yang baru-baru ini diadakan dan juara pertamanya cucu Bapak yang baru berusia tiga belas tahun?
P: Sayang sekali, saya tidak sempat menyaksikan lomba tersebut. Yah, kelihatannya memang menarik.
A: Bagaiamana pendapat Bapak tentang remaja masa kini?
P: Pada dasarnya saya berharap mereka bisa lebih kreatif. Ibu Annisa, saya kira wawancara ini bisa ditutup sampai di sini saja!
***
Pada kesempatan itu Presiden membuka sebuah kotak berisi sebentuk cincin bermata mirah.
"Seharusnya kotak ini saya berikan pada Bundamu, tiga puluh lima tahun yang lampau, di hari pernikahannya! Sekarang bisa kau berikan kepadanya. Bilang pada Ibumu, sebagai teman lama, saya menyarankan dia tidak hanya membuat novel-novel yang bertemakan kelemahan-kelamahan manusia saja."
Annisa gugup. Sebelum dia berbicara lebih lanjut, yang mulia Presiden berdiri.
"Kamu sangat mirip ibumu, Annisa! Tadi saya nyaris menyangka dialah yang hadir."
Annisa gelagapan. Dia merasa berhalusinasi ketika melihat kesedihan, cinta, kebencian, di mata laki-laki itu. Bundanya pernah berkata, lelaki ini sulit mengungkapkan perasaannya. Pada waktu yang sama, ayahnya melamar Ibunya.
Sebelum Annisa sempat berucap apa-apa, lelaki itu bergegas memasuki ruang kerjanya, melihatnya sepintas, kemudian menutup pintu ruang kerjanya!
***
Sore ini, di kamar, Annisa mencoba mengedit hasil wawancaranya dengan Presiden. Dia merasa kesulitan dan capek. Secara iseng Annisa membuka chanel TV, kemudian dengan geram mematikannya lagi, kala berita infotaiment sore itu mengatakan, Annisa berhasil mewawancarai Presiden, yang biasanya sulit diwawancarai! Dan, kata presenternya, bagaimana Anissa bisa semudah itu mewawancarai presiden.
Annisa berpikir, sebuah tembok mengelilinginya. Dia ingin menghancurkan tembok itu. Annisa mengerti bahwa lelaki itu mirip orang yang dicintainya. Padahal saat ini Annisa sudah bertunangan dengan lelaki lain.
Keputusan ini tidak mudah. Bundanya menganggap, dia tidak mengambil keputusan yang tepat. Bundanya berkata, "Kalau tidak ada ketegasan dalam hubunganmu, mengapa kau harus bertunangan dengan orang lain. Nduk, pernikahan itu tidak bisa disederhanakan, apalagi ketika kau marah dengan pacarmu, kemudian bertunangan dengan orang lain."
Annisa tidak bisa menceritakan kepada Bundanya. Dia sekarang paham, cinta mereka memunculkan pemberhalaan. Sehingga dia berpikir harus menghancurkan perasaan cintanya sendiri sebelum menjadikan pacarnya sebagai berhala dari perasaannya itu. Tidak mudah memang, seperti membelah diri sendiri. Apakah ini juga pernah dilakukan oleh Bundanya?
Diam-diam Annisa merasa Bundanya perempuan cerdas yang lebih punya intuisi terhadap kehidupan perkawinannya. Pernikahan orang tuanya berjalan biasa-biasa saja. Sejak kecil Annisa tidak melihat kejanggalan atau keburukan, dalam umur pernikahan mereka? Namun Annisa tumbuh sebagai anak bungsu yang mendapat banyak perhatian dari orang tuanya.
***
Sebetulnya, ceritanya harus dimulai dari sini. Annisa merasa seperti kebanyakan mahasiswa yang penuh cita-cita dan cinta. Namun gelisah terus-menerus. Sampai suatu kali dia merasa muak dengan segala hal. Di ruang perpustakaan dia membaca, bertemu dengan seorang laki-laki. Ini memang sebuah cerita klise. Namun, sejak itu perhatiannya tertumpah kepada laki-laki itu saja. Sehingga Annisa seperti diseret ke dalam arus yang besar dan tidak bisa kembali. Annisa tercekik dan putus asa. Cintanya sudah menjadi berhala yang berada di setiap sudut ruang kuliah, kamarnya, bahkan di sebuah ruang yang paling privat. Sepertinya Annisa sudah berteriak-teriak, berguling-guling untuk memutuskan itu.
Annisa mencoba mengalihkan pikirannya ke pekerjaan.
Kemudian, untuk pertama kalinya Annisa menyulut rokok kegemaran Presiden, mengurung diri dan bekerja keras tanpa mempedulikan tunangannya yang memanggil-manggil di luar kamar. "Annisa, apa yang terjadi denganmu? Beberapa hari ini aku tidak bisa menghubungi ponsel atau telepon rumahmu," katanya lembut.
Annisa diam, diam saja. ***
Malang, 17 Januari 1984 / 30 Oktober 2004
Kamis, 05 Maret 2009
Cerpen: Ratna Indraswari Ibrahim
Cerpen: Nuril M*
SEMANGAT SIANG
Masa muda adalah masa pancaroba
Masa-masa pencarian jati diri
Masa-masa penuh gejolak
Masa-masa penuh dinamika
Laksana siklus hari
Ia seperti siang hari
Ya semangat siang ................
6 Maret 2006
Aku ingat saat itu aku dalam masa pencarian. Masa-masa ingin tahu banyak hal. Terutama mengenai hakekat kehidupan. Aku seorang perempuan berumur 19 tahun. Setelah lulus dari SMA di sebuah kota kecil di perantauan. Dengan berbekal sedikit kecerdasan aku di terima menjadi mahasiswa di sebuah universitas Negeri di Malang. Aku aktif di sebuah organisasi Pers Mahasiswa (persma). Disanalah aku berbincang tentang banyak hal yang baru bagi duniaku yang sebelumnya sangat monoton. Hampir setiap hari aku menghabiskan malam-malamku dengan diskusi. Sampai kepala ini mau pecah rasanya. Walaupun pada akhirnya aku juga belum puas. Aku merasa semua hal yang mereka bicarakan tentang idealisme dan tetek bengeknya hanya sebatas wacana saja. Pada realitasnya sebagian besar dari mereka tidak pernah menjadikannya sebagai semangat untuk menjalankan kehidupan.
Ketidak puasan itu memaksaku untuk berproses di luar ruangan berukukuran 4 x 5 m itu. Dalam pencarian itu aku singgah di beberapa tempat. Tempat itu orang-orang mengatakan sebagai kampung pemulung. Sebutan itu muncul karena sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai pemulung. Seringkali selepas kuliah aku bertandang kesana. Disana nampak sebagian besar rumah yang ditempati berdinding cukup tipis karena berbahan kardus. Walaupun sudah ada juga yang permanen, namun hanya satu dua dan ukurannya sangat sempit untuk sebuah rumah yang dihuni oleh sepasang suami istri dan 6 orang anaknya.
Disana aku bertemu dengan beberapa orang. Tapi diantara sekian banyak orang disana aku cukup akrab dengan seorang gadis belia bernama Nurul. Ia kelas 2 SD saat itu, umurnya kurang lebih 8 atau 9 tahun. Nurul lah yang mengajakku berjalan-jalan singgah ke rumah tetangga-tetangganya. Di kampung itu Nurul tingggal dengan Bapak, Ibu dan ke lima adiknya dalam kondisi yang sangat terbatas. Bapaknya sehari-hari bekerja sebagai pemulung barang-barang bekas seperti kardus dan botol-botol bekas. Ibu Nurul juga seorang perempuan yang sagat giat bekerja, tentunya ini bukan permasalahan karir, tapi terlebih karena adanya tuntutan hidup yang sangat terbatas. Beliau berjualan es di teras rumahnya yang hanya berukuran 1 x 1 meter. Keluarga ini cukup ramah ketika aku singgah. Belum ada 5 menit aku duduk beralaskan tikar di ruangan yang katanya kamar tamu, namun yang aku rasa lebih mirip gudang. Aroma pop ice jualan Karsiah, ibu Nurul tercium cukup kuat karena sudah tersaji di hadapanku. Sambil menikmati minuman dingin itu, aku ngobrol ngalor-ngidul dengan Nurul.
Aku senang melihat Nurul, semangat hidup nampak terpancar dari wajah mungilnya. Namun disisi lain, pada usianya yang masih belia ia harus membanting tulang juga untuk membantu kedua orang tuanya. Pagi-pagi benar ia sudah harus bangun untuk membantu ibunya mempersiapkan dagangan. Setelah itu ia bergegas berangkat sekolah dengan membawa tas lusuh satu-satunya berisi buku-buku dan alat tulis yang ia miliki. Tidak seperti umumnya anak-anak seusianya, biasanya sepulang sekolah anak-anak seumurnya bisa nonton TV, tidur siang atau bermain bersama teman-temannya. Untuk Nurul kebiasaan itu tidak berlaku. Ia harus berangkat mengais rejeki dengan bermodal ecek-ecek terbuat dari tutup botol soft drink yang ia buat sendiri dengan suara melodi yang pas-pasan. Ia berjalan dari rumah ke rumah dengan harapan ada yang mau memberikan 100 ataupun 200 rupiah yang mereka miliki sebagai bayaran jasa hiburan yang ia berikan. Tidak perlu berbelas kasihan, karena Nurul melakukannya nampak tanpa beban. Ketika aku tanya, katanya dia senang melakukan pekerjaan itu. Sekalian juga untuk hiburan.
Tidak jauh dari tempat Nurul tinggal, hanya sekitar 50 meter adalah komplek perumahan yang cukup megah. Tapi tidak pernah aku lihat ada yang keluar dari rumah-rumah itu untuk sekedar ngobrol apalagi untuk berderma. Kesenjangan sosial nampak sangat jelas disana. Jaman ini memang sudah sangat terbalik yang kaya jadi semakin kaya, yang miskin jadi semakin miskin. Tanggung jawab sosial yang mestinya diemban oleh setiap individu sudah mulai memudar.
Aku mulai banyak berpikir sejak pulang dari kampung itu, aku masih sangat beruntung tidak dalam kondisi semacam itu. Anak seusia itu harus pula membanting tulang untuk membantu orang tuanya membiayai 5 orang adiknya. Aku merasakan kehidupanku selama kuliah jadi lebih hidup. Walaupun secara finansial aku juga mepet, minimal aku masih bisa bersenda gurau disana.
21 Mei 2006
Saat ini aku menemukan dan singgah di tempat baru. Aku bertemu dengan seorang laki-laki yang aku pikir sosok yang langka kutemui di jaman yang carut-marut ini. Ia bekerja sebagai Pedagang Kali Iima (PKL) buku plus. Plus itu maksudnya, ia merangkap juga jadi seniman dan budayawan. Awalnya aku hanya sekedar ikut nimbrung di forum diskusi bentukannya saja. Aku cukup tertarik pada apa yang dia bicarakan. Orang-orang memanggilnya Aris. Tentunya aku tidak memanggil dengan nama itu saja, aku memanggilnya ‘Mas Aris’. Penampilannya memang cukup mencerminkan citra seniman ataupun budayawan pada umumnya. Rambut gondrong, beranting sebelah dan terkadang bercelana bolong-bolong dengan kaos hitam yang sering nampak ia kenakan.
Sebenarnya awalnya aku cukup takut juga, mungkin yang lebih tepat sungkan mau ngobrol dengan dia. Gimana nggak sungkan gayanya cuek pool…..Walaupun sebenarnya saat kondisi serius dia sangat familiar. Tapi aku cuek saja, memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang cukup lama jadi pertanyaan di kepalaku. Pokoknya kesempatan ini benar-benar ingin aku gunakan untuk proses.
“Mas Aris ya..?”, Sapaku seraya memperkenalkan diri.
“Saya Emil mas, dari Universitas Merak”.
“Oh… dari mana mbak.?”, tanyanya.
“Kebetulan saya aktif di Persma mas”, jawabku menjelaskan asal muasalku.
Selanjutnya, kondisi psikologisku sudah lumayan stabil. Jadilah obrolan yang lumayan panjang dengan pertanyaan seputar forum diskusi yang ia pelopori. Namun Kemudian obrolanpun terpaksa harus aku akhiri. Ketika ada beberapa orang yang datang bertamu ke kios non permanen miliknya. Sepertinya sama-sama seniman kalau dilihat dari penampilannya. Akhirnya karena dia juga harus menyambut tamunya yang baru datang. Obrolan pun aku cukupkan dengan kalimat permisi.
“Terima kasih mas, aku balik ke kampus dulu soalnya ada kuliah “., pamitku memberikan alasan. Seraya menaiki motor merahku yang sudah butut, aku beranjak pergi menuju kampus.
Selama perjalanan pulang ada satu obrolan yang terfikirkan. Dia banyak menyinggung masalah fungsi manusia dan tanggung jawab sosial sebagai manusia. Kondisi yang aku temui saat ini, memang banyak orang yang cenderung berfikir tentang kepentingan pribadinya. Padahal seharusnya kedua tanggung jawab itu harus berjalan seimbang. Aku jadi semakin yakin bahwa persinggahanku di dua tempat itu tidak salah. Aku jadi tahu kondisi realitas sosial yang ada disana.
4 Juli 2006
Perjalananku juga menemukan sesuatu yang umumnya ditemukan perempuan seumurku. Cinta, ya… cinta katanya. Diproses ini menurutku cukup rumit. Banyak benturan dalam diriku. Awalnya banyak pertanyaan apakah rasa ini hadir karena karunia-Nya atau hanya emosi sesaat. Pada proses ini menumbuhkan keyakinan ternyata tak semudah yang aku bayangkan. Perjalanan ini begitu banyak memunculkan pemikiran. Apa ya, katanya cinta itu adalah segalanya. Entahlah…. mengapa banyak hal yang menjadi tanda tanya besar di kepalaku.
Aku mencoba menelusuri akar munculnya rasa itu. Walaupun kata orang cinta itu tidak bisa dirasionalkan. Karena Cinta itu diciptakan oleh Tuhan dalam bentuk rasa. Jadi yang bicara bukan rasio tapi hati. Wah…. untuk yang satu ini aku memang tergolong kuper, soalnya aku pikir masalah yang seperti ini ada waktunya sendiri untuk dipikirkan.
Terkadang aku juga masih konservatif untuk urusan cinta. Walaupun aku banyak memperbincangkan tentang feminisme dan kekuatan perempuan, tapi aku cenderung pasrah. Artinya kalau aku lagi ngobrol sama orang tuaku, aku selalu bilang, aku siap untuk dijodohkan asalkan melalui proses dulu, istilahnya diberi waktu untuk saling mengenal. Karena menurutku yang namanya cinta sampai menuju fase pernikahan itu siklus wajar setiap manusia. Yang membedakan hanya esensi yang difahami oleh setiap manusianya. Jadi menurutku bukan masalah orangnya tapi yang penting pemikirannya. Itulah sebabnya kenapa teman-temanku mengatakan bahwa aku termasuk perempuan yang punya kriteria aneh.
Menurutku laki-laki itu menjadi menarik untuk diajak jalan kalau ia punya daya intelektual yang cukup. Semakin pintar laki-laki itu, ia akan nampak semakin menarik di mataku. Sebaliknya menurutku kalau hanya mengandalkan fisik saja, bagiku gak bakalan berumur lama. Ya karena inti dari setiap hubungan adalah pada kualitas manusianya. Kalau masalah fisik menurutku itu bisa dipoles secara instan. Walaupun salah satu temanku juga protes atas pendapatku ini.
“ Kalau memang sudah jelek aslinya, ya tetap saja jelek!”, protesnya.
“ Ya… Memang butuh kecerdasan khusus untuk ngerti pendapatku ini”, selorohku dengan nada bercanda.
Jadilah aku tertarik sama mahluk yang satu ini. Menurutku tidak banyak laki-laki yang punyai pemahaman tentang esensi hidup seperti dia. Ini aku fikirkan secara rasional. Sampai saat ini cukup manis perjalananku berkasih dengannya. Dan aku jatuh hati padanya hanya lewat sebuah puisi yang dia berikan padaku :
Untuk Mutiaraku
Aku mencintaimu sebab Kau adalah manusia
Aku mencintimu sebab Kau adalah wanita
Aku mencintaimu bukan karena parasmu
Aku memilihmu bukan karena materimu
Sebab pengetahuanlah untuk memahami esensi hidup
Sebab kecerdasanlah untuk mencari makna hidup
Dan keikhlasan adalah jalan (sandaran)
Untuk pertanggung jawaban kehidupan
17.00 WIB
Realitas yang aku temui dibeberapa tempat yang aku singgahi benar-benar menjadi sebuah pemikiran. Aku sangat beruntung kalau aku pikir. Diposisi ini aku tidak dituntut untuk menghidupi siapa-siapa, hanya dituntut untuk serius belajar saja. Aku merasa nyaman ada disana bersama mereka, aku merasakan sesuatu yang membuat akal dan hatiku berdialektika dengan sangat serius
Ketika kembali ke kampus kondisi jadi berubah. Aku banyak melihat kondisi-kondisi yang sebaliknya. Kenyamanan yang aku temukan, tidak banyak yang sempat berfikir tentang realitas di luar. Yang aku temukan adalah citra-citra kenyamanan saja. Aku melihat teman-temanku cukup sibuk dengan Hp di tangan mereka daripada sekedar menyapa teman disebelahnya. Lebih asyik mendengarkam Mp3 dengan earphone di telinga daripada mendengarkan diskusi. Lebih banyak mengamati film terbaru apa yang muncul di bioskop-bioskop daripada mengamati realitas sosial di seputarnya. Dosen yang katanya pendidikpun hari ini tak banyak membantu membentuk kami menjadi manusia. Di ruang kuliah yang banyak diperbincangkan sebagian besar hanyalah masalah materi dan kesempatan-kesempatan kerja. Nilai pendidikan yang katanya bisa menjadikan manusia menjadi manusia sejati sudah tidak aku temukan.
Wajar saja akhirnya ketika hampir di setiap profesi ini aku tidak menemukan sesuatu yang mencerahkan, malah menjadikan pikiran semakin suram. Itulah juga alasan mengapa aku mencari ruang diluar kampus untuk memproses diriku sendiri. Sampai saat ini aku memang belum menjadi manusia sejati, tetapi minimal aku sudah melihat realitas manusia-manusia sejati di seputarku. Aku bermimpi suatu saat bisa menjadi seperti mereka. Artinya menurutku pekerjaan dan status sosial bukanlah permasalahan, akan tetapi esensi dari kehidupan itulah yang harus difahami. Karena inilah menurutku ruh kehidupan manusia di dunia. Tanpa itu, semuanya jadi kering dan hampa. Kita hanya akan menemukan kekosongan
Walaupun aku perempuan, aku bukanlah sosok yang menerima begitu saja kondisi yang aku jalani sekarang. Aku masih punya bayangan bisa menjadi perempuan yang punya daya intelektual yang kuat. Tidak berhenti hanya sekedar berbicara mengenai dapur, kasur dan sumur. Aku ingin menjadi kebanggaan anak-anakku kelak. Menjadi sosok yang mereka idolakan, jadi tidak perlu Madonna, Angelina Jolie ataupun Tamara Blezensky yang diidolakan. Cukup ibu mereka yang mereka idolakan. Pada saatnya, aku yakin mampu menjadi seperti itu. Bayangan akan sosok perempuan yang punya kekuatan akal dan hati.. Karena aku pikir tidak banyak perempuan yang mampu mencapai taraf itu. Pada saatnya aku yakin bisa mewujudkannya.
Perjalanan ini masihlah sangat panjang, prosesku akan terus berjalan. Tak hanya di beberapa tempat ini. Mungkin akan banyak tempat-tempat lain yang akan aku singgahi. Mungkin banyak orang lagi yang akan aku temui. Karena menurutku realitas itu sendirilah guru yang sejati.
*Pegiat Forum 28-an Kampung Budaya Malang
Jumat, 27 Februari 2009
Cerpen: Azizah Hefni
Pemenang II Lomba Menulis Cerpen Kepemudaan MENPORA dan CWI 2007
Ia pergi dengan gayanya yang gagah. Tangannya meraih kemeja dan celana, lantas mengenakannya. Ia sisir rambutnya, ia tuangkan minyak pelicin di atasnya. Laki-laki itu meraih jam tangan di meja sisi ranjang tempatku rebah, menyemprotkan minyak wangi, memungut tas, dan memakai sepatu. Tanpa menolehku yang pura-pura terpejam, ia membuka pintu terkunci itu. Tak ada bunyi derit. Cukup halus ia membuka dan menutupnya. Barulah suasana tenang. Seperti lautan yang sepi gulungan ombak. Seperti pasar yang jelang petang. Seperti sekolahan yang ditinggalkan para siswa.
Aku beranjak, membuka selimut yang sedari tadi menutupiku. Selimut ini kugunakan untuk mendukung peranku di hadapan laki-laki gagah tadi. Aku selalu berperan sebagai perempuan yang masih nyenyak dengan rangkaian mimpi bila menjelang pagi. Padahal aku melihatnya berkemas, melihatnya bergegas. Sampai dia berlalu dari balik pintu terkunci itu. Sampai kudengar deru motor dari luar rumah. Sampai kurasakan sepi panjang kembali hadir di rumah ini.
Langkah lemah. Berkali-kali aku mendesah. Semalam aku telah selesaikan tugasku lagi. Setelah beberapa malam lalu aku juga telah selesaikan tugasku. Sungguh aku letih, aku perih. Tubuhku makin banyak deret-deret luka merah muda. Di leher, bawah puting, punggung, dada, selakangan, dan kemaluan. Laki-laki itu masih tetap dengan gaya harimau buas menyerangku. Ia lupa, bahwa sebetulnya aku adalah kayu apung di atas lautan. Tak bisa apa-apa, tak tahu apa-apa. Mungkin dalam matanya aku adalah rusa gemuk, sehingga ia menyantapku puas-puas, mengulitiku, mencucup keringatku, menyedot energiku, membobol isi perutku dan membuat garis-garis darah tertahan di punggung dan leherku. Tak hanya itu, ia merenangi sumurku yang berlumut tak sudah-sudah. Seribu kali aku mengerang, seribu kali pula ia berganti gaya. Aku nyaris pingsan, tapi ia memintaku bertahan.
Di depan sebuah cermin, aku melihat diriku yang telanjang. Tubuhku banyak goresan, banyak darah-darah tertahan. Paling banyak di bagian kemaluan. Mataku berat dan serat. Aku seperti gunung yang mual dengan panas dalam tubuhku. Dalam tubuhku, cairan mendidih. Sementara tubuhku amat letih, tak bisa menahan rasa nyeri dan mual yang kian memutih. Kutatap diriku yang sayu dalam cermin. Tatapan mataku redup. Bibirku pucat. Nafasku terengah. Beberapa jenak aku jatuh sampai membentur cermin. Tubuhku tergeletak begitu saja. Sebelumnya, aku sempat melihat air mataku menetes dua butir. Setelah itu gelap. Gelap yang sungguh pengap.
* * *
Jam dinding di kamar masih terus menambah angka. Sedang ruangan berpintu itu masih berdiri dengan angkuh. Waktu dan ruangan seolah-olah berkolaborasi mempermainkanku. Hari-hariku tetap saja hambar. Tak ada tambahan warna atau rasa baru. Semuanya seperti ini. Hitam. Putih. Hitam lagi. Putih lagi. Padahal, berapa banyak sebenarnya warna yang ada dalam plastik kehidupan? Bukankah hidup adalah ragam? Pilihan? Aku tak tahu, kenapa nasibku begitu angkuh. Ia tak izinkan aku memilih apapun. Aku tetaplah perempuan dalam ruangan, menunggu detak-detak waktu yang terus melangkah tanpa bosan, menunggu laki-laki gagah itu pulang dari kerja, dan memintaku rebah di atas tempat tidur dengan telanjang. Sementara pintu itu tetap tertutup. Seolah ada yang menguncinya dari luar. Padahal kunci di lubang pintu masih menggantung. Aku bisa saja membukanya sekali waktu. Tapi aku selalu menyaksikan Mikail mengawasi gerakanku. Siap menyerang bila berani lewati batas pintu.
Kuobati luka memar akibat cakaran atau goresan kuku panjang laki-laki gagah tadi. Sesekali aku merintih pelan, sesekali aku sontak tersentak karena nyeri. Bahkan sesekali aku terpaksa menangisi tubuhku yang kian terluka. Ia melemparku tiap pagi serupa melempar handuk dari bahunya. Ia memungutku tiap malam serupa ia memungut air dalam gelas karena haus. Ia membiarkanku sepanjang siang dan sore, serupa ia membiarkan asap keluar dari lubang knalpot motornya. Entahlah, sebenarnya ia anggap aku apa. Apakah sebagai perempuan yang menyandang gelar istri atau cuma sebuah benda? Benda yang tak bersuara. Benda yang terkunci di balik pintu ruangan yang angkuh.
Telpon berdering. Tubuhku yang terbalut kain tipis sedikit terkejut. Apakah laki-laki gagah itu yang menelponku? Ataukah orang lain? Kotak obat-obatan kuletakkan. Aku bergegas menuju meja telpon.
“Hallo?”
“Ini aku, Gesti”
Aku mengangguk. Dia tetanggaku. Aku selalu melihatnya keluar rumah setiap pukul tujuh pagi. Ia pekerja keras. Posturnya yang cantik membuatnya diterima bekerja pada sebuah hotel bintang lima di kota. Rumahnya tepat di depan rumahku. Pernah aku beberapa kali berbincang dengannya di daun jendela. Saat itu ia memintaku untuk keluar supaya bisa berbicara dengan bebas. Tapi aku mengatakan, kalau ruangan yang kuhuni adalah ruangan yang angkuh. Pintu tak pernah mau terbuka. Ada penjaga—walaupun entah apakah itu—yang berdiri dan selalu mengawasi gerakanku.
“Aku melihat suamimu bersama dengan seorang wanita ke restoran hotel tempatku bekerja”
Jantungku tiba-tiba berhenti. Tak hanya jantung, semua organ yang berdenyut seperti memberikan kesempatan waktu pada otakku untuk terkejut. Tapi, sepanjang pikiranku berjalan, hanya menemukan gang-gang buntu. Aku tak bisa pikirkan apa-apa lagi. Hanya hatiku yang tiba-tiba tercekat, merasakan sesuatu yang berat.
“Dan...dan aku...” Gesti menyetop kata-katanya. Aku menunggu dengan ketegangan luar biasa. “Aku melihat mereka sangat mesra. Bahkan...” ketegangan itu memuncak. Aku seperti narapidana yang mendengarkan keputusan hakim tentang sebuah hukuman mati. Satu-satu varian tubuhku melonjak ketakutan. Inilah ketegangan yang melahirkan sepi. Sepi yang siap dengan udara luka masuk di setiap sudut jendelanya. “...mereka memesan sebuah kamar di hotel itu...”
Tit! Aku mematikan benda yang menghadirkan suara Gesti. Barulah kurasakan semuanya berputar-putar, mengaduk-aduk isi tubuhku sampai datar. Baru sekali ini aku mendengar kalimat baru. Kalimat yang kejam. Langit siap copot dari atap yang menggantungnya. Aku nyaris jatuh pingsan seperti tadi pagi. Tapi lagi-lagi, aku tertahan sesuatu yang bulat dari bilik nuraniku. Itu adalah kumpulan diamku menilai hidupku pasca pernikahan. Ketidakmengertian, kepasrahan, ketidakberdayaan, kelemahan...Benar, semua menumpuk membentuk bulatan-bulatan kasar serupa batu bayangan dalam ruanganku (ruanganku ini memang dipenuhi batu abstrak sehingga membuatku sulit bergerak). Aku ingin muntah. Aku tak betah.
Tumpahlah. Segalanya menjelma aliran air dari mata yang tak punya muara. Ini lebih deras dari tsunami yang melipat ratusan hektar daratan. Lebih sakit dari seribu izrail mencabut ruh jiwa yang menggigil. Kesakitan apakah. Ketidakmengertian apakah. Ya Tuhan, bau neraka sepertinya sudah mulai masuk ke dalam cuping hidung sempitku. Dia tak sekedar melemparku seperti handuk dari lingkaran lehernya, ia sekarang memotong-motong tubuh lusuhku untuk dijadikan alas kaki atau penghilang debu.
* * *
Pintu masih terkunci. Ini kali pertama malam tanpa laki-laki gagah. Pintu masih diam dengan keangkuhannya. Ia sama sekali tak iba melihatku menangis sendiri. Sebab laki-laki gagah tak datang, makin gelisahlah aku. Layaknya gelombang lautan, aku bergulung-gulung meruntuhkan diri. Diriku adalah manusia yang terbentur berbagai macam perasaan, pikiran, dan peristiwa. Semuanya tak pernah kumengerti. Satupun tidak. Aku hanya mengerti, bahwa laki-laki gagah memerintahku untuk diam di dalam rumah, menyediakan makanan dan minuman, membersihkan perabotan, menunggu pagar terbuka dan pintu kamar angkuh itu melebar. Aku juga hanya mengerti bahwa setiap ia memintaku untuk rebah di atas ranjang, wajiblah bagiku rebah. Tanpa gerakan penolakan apalagi perlawanan. Sudah kewajiban, begitu ia menjelaskan. Bahwa seorang perempuan yang dalam sarang laki-laki adalah budak. Budak yang harus menahan sakit dan lelah.
Semua kuanggap amat sakral. Seolah ada jagal siap memotong leherku bila aku meronta. Aku tak punya siapa-siapa sebagai labuhan. Aku hanya punya sepi yang terluka ini, dalam ruangan berpintu yang selamanya terkunci untukku ini. Aku istri yang dibelinya atas nama Tuhan. Dan ia katakan, kalau fungsiku adalah sebagai penafkah batinnya. Cuma itu, tak ada yang lain.
Sampai malam berkemas dan pagi menyongsong lekas. Laki-laki gagah tak juga datang. Pikiranku kian mengambang. Aku ingin membuka pintu yang seolah terkunci itu dan mencarinya. Apakah benar laki-laki gagahku masih bersama perempuan asing dalam kamar hotel? Dunia ini ada untuk dikendalikan, tapi setiap kisah yang terbentang di wilayah duniaku seperti mengendalikanku. Aku tak punya kekuatan untuk mengambil keputusan. Entah karena statusku, entah karena ketakutanku sendiri. Tapi ketahuilah, aku sungguh khawatir. Khawatir laki-laki itu benar-benar akan meludahi namaku sebagai manusia!
* * *
Malam kedua, ketiga dan keempat. Baru malam ini, malam keempat, tiba-tiba aku mendengar suara pagar rumahku terbuka. Aku bangkit dan mengenakan pakaian setelah separuh hari telanjang. Gores-gores luka akibat cakaran kasar laki-laki gagah itu sudah mengering. Kulitku kembali padat. Kemaluanku kembali rapi. Selakangan juga sudah tak mengeluarkan darah tertahan. Sementara aku merasakan suasana ringan karena tak ada lagi lelah. Kuintip sumber suara dari balik jendela. Kulihat laki-lakiku pulang dengan motornya. Wajahnya tetap sangar. Matanya tetap menyembunyikan benda tajam. Aku menutup tirai dan duduk tegang di bibir ranjang.
Pintu terkunci itu terbuka. Laki-laki gagah dengan tas punggungnya berdiri tegap di tengah lubang keluar masuknya udara. Ia menatapku lama. Aku menunduk.
Tak seperti biasanya ia berjalan lemas. Ia lempar tas dan sepatu. Tanpa sepatah katapun, ia mendekati ranjang. Aku terpejam. Menunggu pecah sesuatu yang bungkam. Sementara pintu perlahan-lahan tertutup. Sejujurnya karena angin, namun aku kira karena ulah Mikail yang siaga di depan pintu. Ia rebah begitu saja. Pejamkan mata begitu saja. Mendengkur begitu saja. Tanpa bilang, “Bersiaplah, buka pakaianmu! Layani aku dengan baik!”
Aku menelan ludah.
* * *
Laki-laki gagah tak pernah menjadikanku santapan makan malamnya lagi. Hari-hariku terasa begitu longgar. Tapi kelonggaran ini bukan malah membuatku bebas bernafas. Makin banyak pertanyaan yang tak bisa kujawab. Apakah laki-laki gagah sudah mulai merasa kalau selama ini ia telah melukai tubuhku? Kenapa ia tak pernah berbicara denganku lagi? Kenapa dia tak melihat ulahku lagi?
Dunia ini memang selalu bergeser dan berubah. Seperti waktu, ia melangkah mencari hal dan suasana baru. Tak ada yang tahu ada apa dengan esok, nanti malam, nanti sore, beberapa jam kedepan, atau bahkan beberapa detik kemudian. Semuanya bergeser tanpa suara, membuat makin linglung manusia-manusia. Lantas apa tugasku? Bukahkah ia bilang, tugas perempuan dalam sangkar laki-laki adalah pelayan? Budak? Bila tak lagi difungsikan, lantas?
Nampaknya aku diubahnya menjadi seonggok benda tanpa guna.
Malam ini, aku heran dengan laki-laki gagah yang tiba-tiba menghardikku. Ia menjambak rambutku, menatapku dengan hunusan pandang beracun. Aku terbata, tapi masih bisa bertahan. Kakiku tak selemah dulu. Kakiku kuat menyangga tubuhku. Beberapa hari ini, luka di tubuhku memang memulih. Dan aku rasakan aku sedikit semangat.
“Kau sudah tidak berguna!” Kurasakan percikan ludahnya masuk ke telaga mataku yang gugup. Bau alkohol busuk membuatku mual. “Pergi sekarang!!”
Tanpa tahu apapun, ia memerintahkanku pergi. Ia melemparku ke lantai. Sampai kepalaku membentur tembok. Sampai kakiku membentur ranjang. Sampai tanganku membentur meja rias. Darah mulai mengalir lagi.
Akhirnya, sekalipun tersengal, aku mencoba berdiri. Matanya yang meradang kulawan dengan keluguan air mata. Kukatakan, “Kenapa kau menyuruhku pergi? Apa memang begitu aturannya?! Bukankah kau sendiri yang bilang, bahwa aku harus menjadi penghuni tetap ruangan ini, sekalipun kau berangkat bekerja?! Pintu itu selalu mengunciku, dan aku selalu terima dia mengunciku!”
“Ya, aturannya memang begitu! Kau sudah bebas pergi dari sini! Bahkan aku memerintahkanmu untuk tak kembali ke rumah ini!!”
Maka, untuk pertama kalinya, aku melewati pintu yang mengunciku selama setahun itu. Aku diusir laki-laki gagah dengan begitu tak manusiawi. Bibit dendam muncul pada mata batinku yang telah ia lukai. Aku baru tahu, kalau cinta tak pernah kukulum selama ini. Yang kukulum adalah kepasrahan yang selalu ditertawakan kegagahannya!
* * *
Tapi setiap malam aku mengintai rumahku. Dengan taksi atau mobil tumpangan tetangga baruku, selalu kuselipkan mataku pada dinding rumah bercat coklat. Selalu ada motor itu. Selalu ada sandal itu. Selalu ada cahaya lampu itu.
Pertemuan dan perpisahan tidak pernah berada dalam jalan yang sama untuk bisa saling menjelaskan keduanya. Ia datang pergi seperti angin. Ia tinggalkan kotoran atau emas dalam tungku tanpa mengatakan untuk apa. Aku dipertemukan dan tiba-tiba dipisahkan. Tanpa ada kejelasan kenapa aku dipertemukan dan kenapa aku dipisahkan. Semuanya menjadi garis nasib yang cukup kejam untukku, entah untuk laki-laki gagah itu. Aku selalu ingat ulah binatang bila melihat laki-laki gagah keluar dari pintu yang terkunci. Kucing yang bersetubuh di jalan, ayam yang bertahi di jalan, sapi yang kencing di jalan dan sebagainya. Wanita yang ia rengkuh bahunya itu diizinkannya melewati pintu yang terkunci. Ia juga diizinkan untuk berjalan-jalan di sebuah pasar swalayan atau diskotik kota. Kukira ia telah memiliki ragam warna. Ia telah mengenal merah, hijau, kuning atau bahkan campuran-campuran. Matanya senantiasa berbinar, kulitnya masih padat dan halus. Aku yakin, tak ada darah di sekitar tubuhnya setiap kali usai melaksanakan tugasnya melayani laki-laki gagah. Ada perbedaan perlakuan. Dan perbedaan itu justru ada pada jenis manusia yang sama. Perempuan. Wanita. Aku dan wanita itu
Dia jauh lebih cantik. Jauh lebih muda. Benar, setiap hari aku mengawasi keduanya. Setiap hari aku mencari jawaban atas nasib yang selama ini kuterima. Aku selalu pulang dengan hal baru. Hal yang tak pernah kutahu sebelumnya.
Sampai pada malam ini. Aku melihat laki-laki gagah mencium wanita muda itu di depan pagar rumah. Cukup lama. Aku ingat ketika ia menciumku setelah tiba pulang kerja di ruangan terkunci itu. Menciumku dengan tangannya yang terus bergerak menggaruk punggungku yang telanjang. Setiap garukan menghasilkan goresan. Setiap goresan mengalirkan darah yang tertahan. Aku menahan sakit itu. Aku tak lupa, kalau laki-laki gagah selalu lupa memotong kukunya. Tapi lihat dia sekarang, dia mencium wanita itu tanpa menggerakkan tangannya. Ia hanya mencium, menyedot cinta dalam cawan merah miliknya.
Setelah itu pintu dibuka. Keduanya masuk. Ini kesekian kali kusaksikan laki-laki gagah dan wanita asing memasuki kamar pengantinku dulu. Lampu padam. Entah apa yang terjadi.
Aku menjawil sopir taksi yang tertidur. Mengawasi memang membosankan. Ia tergagap dan segera menyalakan mesin. Aku meluncur ditelan malam. Mataku mengalirkan mata air dendam yang amat dalam. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Pastilah wanita dan laki-laki gagahku itu keluar dari pintu yang terkunci itu dengan tawa dan keriangan yang merubah warna suram dunia. Kuputuskan aku tak akan mengawasi mereka lagi. Sudah saatnya aku panen dendamku: membuat pintu terkunci untuk laki-laki yang baru!
SELESAI
Malang, 01 September 2006